Indonesian Arabic Chinese (Simplified) English Japanese

RAPAT EVALUASI KINERJA BERSAMA DPRD JATIM (KOMISI C), PT PWU JATIM BEBERKAN PERMASALAHAN YANG DI HADAPI PERUSAHAAN

pwu
Pasuruan, Pandemi covid-19 membawa dampak yang signifikan di berbagai dunia usaha salah satunya PT Panca Wira Usaha Jawa Timur (PT PWU Jatim) yang merupakan salah satu BUMD Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Perusahaan yang berdiri pada tahun 2000 ini berasal dari gabungan  5 Perusahaan Daerah di Jawa Timur. Dampak dari pandemi tersebut berimbas pada penurunan pendapatan serta laba perusahaan. Penurunan atas pendapatan dan laba perusahaan ini menjadi perhatian oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Timur (DPRD Jatim) Komisi C.

DPRD Jatim Komisi C menggelar rapat kerja (raker) dengan agenda pemantauan kinerja PT PWU Jatim dan Anak Perusahaan ditengah pandemi Covid-19 dan rencana kerja tahun 2021 pada Selasa 06/04 di Taman Dayu Hotel and Resort, Pasuruan. Dalam raker tersebut turut hadir dua anak perusahaan PT PWU Jatim yaitu PT Moya Kasri Wira Jatim dan PT Carma Wira Jatim.
Pada raker tersebut Erlangga Satriagung selaku Direktur dari PT PWU Jatim memaparkan kinerja keuangan dari tahun 2018 hingga tahun 2020, PT PWU Jatim secara konsolidasi mengalami penurunan pendapatan dan laba. Pada tahun 2019 pendapatan konsolidasi sebesar Rp 248,4 milyar dibandingkan dengan tahun 2020, turun menjadi Rp 175,2 milyar sedangkan laba bersih konsolidasi pada tahun 2019 sebesar Rp 6,9 milyar dibandingkan dengan tahun 2020, turun menjadi Rp 4,1 milyar. Penurunan ini disebabkan oleh dampak dari pandemi Covid-19. Namun PT PWU Jatim menargetkan di tahun 2021 pendapatan secara konsolidasi mengalami kenaikan sebesar 42% dari tahun 2020 menjadi 248,6 miliar dan laba bersih konsolidasi naik sebesar 69% menjadi 6,8 miliar. PT PWU menargetkan mampu menyetor PAD ke pemprov Jatim sejumlah 3,9 miliar.

Erlangga Satriagung juga membeberkan terkait aset PT PWU Jatim. Dalam penjelasannya kepada komisi C, PT PWU memiliki 112 titik aset dengan luas 607.610 m² yang tersebar hampir di seluruh kabupaten kota di Jawa Timur. “PT PWU ini kalau dibandingkan dengan BUMD yang lain ini yang paling banyak asetnya, kalau ini di reevaluasi nilainya antara 4 sampai 4,5 triliun” tandas Erlangga.
Namun dari 112 aset tersebut terdapat aset yang belum bahkan tidak bisa dioptimalkan dikarenakan dokumennya tidak ada, ditempati pihak ketiga hingga kondisi fisiknya belum diketemukan. Erlangga juga menyampaikan beberapa permaslalahan yang dihadapi, termasuk kendala regulasi PP No.54 tahun 2017 tentang BUMD dan Perda Provinsi Jawa Timur No. 8 tahun 2019 tentang BUMD sehingga pemberdayaan aset PT PWU Jatim belum bisa optimal.

Selain itu Erlangga juga menyampaikan terkait perlunya usulan penambahan penyertaan modal untuk mengatasi berbagai permasalahan yang ada. Penyertaan modal tersebut digunakan untuk modal kerja, pengembangan usaha PT PWU Jatim dan anak perusahaan, sertifikasi aset, penyelesaian Pajak Bumi dan Bangunan dan kewajiban perbankan.

Dalam kesempatan tersebut, Anggota Komisi C Agus Dono meminta untuk segera ditindak lanjuti usulan dari PT PWU Jatim tersebut. “Sebelum adanya penambahan modal harus benar-benar dikoreksi total, jangan sampai penambahan penyertaan modal ini hanya ibaratnya sebagai meringankan rasa sakitnya saja tapi tidak bisa mengobati penyakitnya”, ucap Agus Dono.

Selain itu, Ketua Komisi C DPRD Jatim Hidayat meminta untuk PT PWU Jatim membeberkan secara detail terkait kebutuhan penambahan penyertaan modal yang diusulkan oleh PT PWU di pertemuan selanjutnya.
Dalam raker ini juga, Yuyuk Vestiani selaku direktur PT Moya Kasri memaparkan kinerja perusahannya yang mengalami penurunan yang diakibatkan oleh pandemi covid-19. Perusahaan yang memproduksi Air Mineral Dalam Kemasan (AMDK), Es balok dan Sirup ini mengalami penurunan pendapatan dan laba bersih. Pada tahun 2019 pendapatan perusahaan mencapai 15,3 Miliar turun di tahun 2020 menjadi 14,6 miliar sedangkan untuk laba bersih tahun 2019 sebesar 706 juta turun di tahun 2020 menjadi 362 juta. Selain dari dampak covid-19 Yuyuk juga menyampaikan kendala perusahaannya seperti kebutuhan modal kerja, sarana dan prasarana operasional yang sudah tua, belum optimalnya marketing hingga produktifitas dan kualitas SDM.

Selanjutnya PT Carma Wira Jatim yang merupakan anak perusahaan PT PWU yang bergerak di bidang jasa penyamakan kulit juga memaparkan kinerja perusahaannya di tahun 2020. PT Carma juga mengalami penurunan pendapatan dan laba bersih. Pada tahun 2019 pendapatan sejumlah 9,3 miliar dengan laba bersih 549 juta sedangkan di tahun 2020 pendapatan menurun menjadi 5,6 miliar dengan kerugian sebesar 258 juta.
Menurunnya pendapatan perusahaan yang merupakan warisan dari belanda ini dikarenakan oleh keterbatasan bahan baku dan minimnya bahan baku dari pengepul kulit yang menjadi salah satu potensi pendapatan perusahaan untuk jasa penyamakan.

Menanggapi hal tersebut Komisi C DPRD Jatim meminta untuk pertemuan selanjutnya membahas permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh Anak Perusahaan secara On The Spot langsung sehingga tau benar kondisi di masing masing Anak perusahaan (/win).

Site Login